Dalam bisnis minuman bubuk, ada dua pilihan strategi yang sering menjadi dilema pelaku usaha.
Pertama, mengikuti produk yang sudah terbukti populer di pasar.
Kedua, merintis jenis produk yang belum banyak diminati dan mencoba menciptakan tren baru.
Keduanya memiliki peluang. Namun, keduanya juga memiliki risiko.
Mengikuti tren berarti masuk ke pasar yang sudah memiliki permintaan. Sementara menjadi trendsetter berarti menciptakan kategori atau konsep baru yang belum tentu langsung diterima konsumen.
Lalu, strategi mana yang lebih tepat untuk bisnis minuman bubuk?
Jawabannya bukan sekadar “ikuti tren” atau “jadi trendsetter”, tetapi bagaimana bisnis menggunakan data untuk menentukan kapan harus mengikuti pasar dan kapan harus menciptakan pasar.
Data Bisa Menjadi Kompas Sebelum Mengembangkan Produk
Sebelum memutuskan produk apa yang akan dikembangkan, pelaku bisnis sebaiknya memahami terlebih dahulu apa yang sedang dicari dan dibeli konsumen.
Salah satu pendekatan yang dapat digunakan adalah melihat data penjualan marketplace. Berdasarkan analisa Kalodata.com selama satu bulan terakhir, terdapat beberapa kategori minuman bubuk yang terlihat mendominasi TOP 20 produk.
1. Matcha / Teh Hijau Bubuk — Kategori yang Sedang Hot
Matcha menjadi salah satu kategori yang paling menarik perhatian.
Beberapa merek mencatat volume penjualan yang sangat tinggi hingga mendekati 10.000 unit.
Harga yang berada di kisaran Rp20.000–Rp115.000 juga menunjukkan adanya peluang untuk menyasar pasar konsumen massal.
Menariknya, penjualan matcha dalam data tersebut banyak didorong oleh video afiliasi, bukan hanya aktivitas live shopping.
Artinya, peluang bisnis matcha tidak hanya terletak pada produknya, tetapi juga pada kemampuan brand menciptakan konten yang mudah dipromosikan oleh kreator.
2. Kopi Bubuk 3-in-1 Grosir — Menarik untuk B2B dan Reseller
Kategori berikutnya adalah kopi bubuk 3-in-1 dalam format grosir.
Berbeda dengan matcha, kategori ini sangat kuat melalui siaran langsung, dengan lebih dari 95% penjualan yang berasal dari live menurut analisa tersebut.
Ini menunjukkan bahwa satu produk bisa membutuhkan strategi distribusi yang berbeda.
Jika targetnya adalah reseller, warung, kantor, atau bisnis F&B, model grosir/B2B dapat menjadi peluang yang menarik.
3. Minuman Kesehatan & Kecantikan — Harga Premium, Margin Menarik
Kategori minuman kesehatan dan kecantikan seperti glow drink dan collagen drink juga menunjukkan momentum yang kuat.
Harga produk berada pada kisaran yang jauh lebih tinggi, sekitar Rp230.000–Rp670.000 per paket.
Kategori ini juga menarik dari sisi affiliate marketing karena produk dengan positioning premium memberikan ruang untuk komisi afiliasi sekitar 5–15%.
Hal ini menunjukkan bahwa konsumen tidak hanya mencari minuman bubuk berdasarkan rasa, tetapi juga berdasarkan benefit dan positioning yang ditawarkan.
4. Minuman Sari Buah & Vitamin C — Volume Masih Menjadi Raja
Kategori minuman sari buah dan vitamin C memperlihatkan bahwa produk yang sederhana dan terjangkau masih memiliki pasar yang sangat besar.
Dengan harga sekitar Rp27.000, kategori ini memperlihatkan satu prinsip penting dalam bisnis FMCG:
Harga terjangkau + kebutuhan yang luas = potensi volume besar.
Â
5. Minuman Diet & Detox — Menargetkan Niche yang Spesifik
Kategori lainnya adalah minuman diet dan detox.
Produk tertentu yang menyasar konsumen yang lebih spesifik, terutama wanita yang memiliki kebutuhan terkait diet, weight management, dan detox.
Rentang harga sekitar Rp73.000–Rp290.000 menunjukkan positioning yang lebih tinggi dibandingkan minuman bubuk mass market.
Kategori seperti ini menarik karena tidak harus memenangkan seluruh pasar. Cukup memiliki target konsumen yang jelas dengan kebutuhan yang kuat.
Tetapi Ada Satu Hal yang Perlu Diperhatikan
Walaupun beberapa kategori menunjukkan angka penjualan yang menarik, data Kalodata.com juga memberikan peringatan penting.
Secara keseluruhan, kategori yang dianalisa tercatat mengalami penurunan sekitar 14,92%.
Artinya, pasar yang ramai bukan berarti pasar yang mudah.
Ketika sebuah kategori sudah terbukti laku, semakin banyak pemain yang akan masuk. Kompetisi harga meningkat, jumlah konten bertambah, dan konsumen memiliki semakin banyak pilihan.
Jadi, mengikuti tren memang mengurangi risiko produk tidak memiliki pasar, tetapi meningkatkan risiko persaingan.
Lalu, Apakah Sebaiknya Menjadi Trendsetter?
Menjadi trendsetter terdengar menarik.
Bayangkan jika sebuah brand berhasil menciptakan jenis minuman bubuk baru dan menjadi brand pertama yang dikenal konsumen. Kompetitor belum banyak, positioning lebih mudah dibangun, dan brand berpotensi menjadi referensi dalam kategori tersebut.
Namun, ada konsekuensinya.
Ketika produk belum populer, berarti konsumen mungkin belum memahami produknya. Brand harus mengeluarkan lebih banyak effort untuk edukasi, sampling, content marketing, hingga membangun awareness.
Dengan kata lain:
Mengikuti tren berarti mencari konsumen yang sudah ada.
Menjadi trendsetter berarti mencari atau menciptakan konsumen baru.
Keduanya membutuhkan strategi yang berbeda.
Strategi yang Lebih Aman: Don’t Follow the Trend, Follow the Data
Daripada memilih secara ekstrem antara “ikut tren” atau “menjadi trendsetter”, bisnis minuman bubuk dapat menggunakan pendekatan yang lebih strategis.
1. Gunakan produk populer sebagai starting point
Produk yang sudah memiliki demand dapat menjadi pintu masuk.
Misalnya, ketika data menunjukkan matcha sedang memiliki momentum kuat, bisnis dapat mengembangkan produk berbasis matcha sebagai salah satu portfolio.
Namun, jangan berhenti pada produk yang sama dengan kompetitor.
2. Cari celah di dalam tren
Di sinilah peluang diferensiasi muncul.
Jika matcha sedang populer, pertanyaannya bukan hanya: “Bagaimana saya menjual matcha?”
Tetapi: “Apa yang belum ditawarkan kompetitor dalam kategori matcha?”
Misalnya dari sisi rasa, format produk, target konsumen, aplikasi, packaging, serving experience, atau positioning.
Dengan cara ini, bisnis tetap masuk ke pasar yang sudah memiliki demand, tetapi memiliki peluang untuk menciptakan sesuatu yang berbeda.
3. Bangun portfolio, bukan hanya satu produk
Tidak semua produk harus menjadi trendsetter.
Bisnis dapat memiliki kombinasi:
70% proven market + 20% market opportunity + 10% experimental product.
Produk proven membantu menjaga cash flow.
Produk dengan peluang pasar membantu pertumbuhan.
Sedangkan produk eksperimental memberikan kesempatan bagi bisnis untuk menemukan “next big thing” sebelum kompetitor.
Persentase tersebut tentu bukan formula mutlak, tetapi dapat menjadi kerangka berpikir dalam menyusun portfolio produk.
Affiliate Marketing Juga Mengubah Cara Produk Minuman Bubuk Dijual
Ada satu insight menarik dari analisa Kalodata.com: sekitar 65,9% pendapatan berasal dari affiliate.
Ini menunjukkan bahwa keberhasilan produk di marketplace saat ini tidak hanya ditentukan oleh kualitas produk dan harga.
Kemampuan produk untuk dikomunikasikan melalui creator juga menjadi aset penting.
Produk yang mudah divisualisasikan, mudah dibuat kontennya, memiliki cerita yang menarik, atau memberikan hasil yang terlihat dapat memiliki peluang lebih besar untuk mendapatkan exposure melalui affiliate.
Karena itu, saat mengembangkan produk baru, bisnis sebaiknya tidak hanya bertanya:
“Apakah produk ini enak?”
Tetapi juga:
“Apakah produk ini menarik untuk dibuat konten?”
Jika jawabannya ya, peluang distribusinya bisa menjadi jauh lebih besar.
Jadi, Ikuti Tren atau Jadi Trendsetter?
Jawabannya: keduanya.
Ikuti tren untuk memahami di mana demand konsumen berada.
Gunakan data untuk menemukan celah yang belum dimanfaatkan.
Kemudian, gunakan inovasi untuk menciptakan produk yang berbeda.
Karena menjadi trendsetter tanpa memahami pasar dapat membuat bisnis menghabiskan banyak waktu dan biaya untuk mengedukasi konsumen.
Sebaliknya, hanya mengikuti tren tanpa diferensiasi dapat membuat bisnis terjebak dalam perang harga dan persaingan yang semakin padat.
Strategi terbaik adalah: Follow the data, understand the trend, then create your own opportunity.
PT. Naturelle Inti Global: Mengembangkan Produk Berdasarkan Peluang Pasar
Bagi bisnis yang ingin masuk atau mengembangkan kategori minuman bubuk, tantangannya bukan hanya menemukan tren.
Mulai dari pemilihan bahan baku, formulasi rasa, karakter produk, positioning, hingga produksi dalam skala bisnis, semuanya perlu dirancang agar produk memiliki alasan yang kuat untuk dipilih konsumen.
- Naturelle Inti Global (NIG) dapat menjadi partner maklon untuk membantu bisnis mengembangkan produk powder drink sesuai konsep dan kebutuhan pasar.
Dengan pendekatan pengembangan produk yang dapat disesuaikan, bisnis tidak harus sekadar menjadi follower dari tren yang sudah ada.
Anda dapat memanfaatkan data sebagai dasar, melihat peluang di pasar, lalu mengembangkan produk yang memiliki diferensiasi dan potensi menjadi tren berikutnya.


